🧑‍🎤 Orang Yang Mementingkan Harta

Dalamsetiap zaman dan generasi selalu ada orang-orang saleh dan takwa yang mementingkan harta dan makanan yang halal, serta menjauhi harta dan makanan haram. Disyariatkan meminta keputusan hukum kepada ahli ilmu yang dipandang mampu memberikannya. Industri atau pembuatan alat-alat rumah tangga sudah dikenal sejak zaman dahulu kala. Banyakriwayat yang berasal dari Rasulullah s.a.w. yang menggambarkan keberuntungan orang-orang yang menafkahkan harta-bendanya di jalan Allah; yaitu untuk memperoleh keridhaan-Nya dan untuk menjunjung tinggi agama-Nya. Selain mengikis sifat-sifat yang tidak baik seperti kikir dan mementingkan diri sendiri, infak ini juga menimbulkan Sedangkansifat pendusta agama ialah ria, curang, aniaya, takabur, kikir, memandang rendah orang lain, tidak mementingkan yang lain kecuali dirinya sendiri, bangga dengan harta dan kedudukan, serta tidak mau mengeluarkan sebahagian dari hartanya, baik untuk keperluan perseorangan maupun untuk masyarakat. 1pesan terakhir yang disampaikan oleh orang yang akan meninggal berkenaan dengan harta kekayaan dsb; 2 pusaka; (yang) bertuah; gaib (yang berarti ga GILA terganggu; tidak normal pikirannya): orang yang datang kemari tadi agak --; 2 tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang ter sebelumkita membaca atau memahami isi firman tuhan, terlebih dahulu kita mengetahui dulu bahwa jaman sekarang ini ada banyak orang orang yang menjauh dari tuhan atau lebih tepatnya meninggalkan tuhan,di akibatkan karna lebih mementingkan harta dunia di banding mencari orang juga tidak tau bahwa hidup di dunia ini hanya Wahaiorang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS. At-Taubah Ayat 23) 1segala sesuatu yang berkaitan dengan benda; 2 berkaitan dengan harta benda; yang bersifat mementingkan harta benda MENGHAMBUR-HAMBUR 1 meluapluap: (menghambur-hamburkan) mengeluarkan (uang, harta benda) secara berlebih- Iebihan: ia ~ (kan) harta peninggalan orang tuanya; Berbandingterbalik dengan orang-orang yang bergelimang harta dan kekayaan serta serta terus berebut kedudukan, jabatan, dan kekuasaan, tapi miskin hati, miskin simpati, empati, dan tak tahu diri, mementingkan dirinya sendiri di atas penderitaan orang lain dan rakyat. Melakukankuat-kuat; memaksa; mengerasi; menggagahi; ~ harta orang mengambil harta orang (lain) dengan paksa; KEBENDAAN 1 segala sesuatu yang berkaitan dengan benda; 2 berkaitan dengan harta benda; yang bersifat mementingkan harta benda . Akhir-akhir ini, teriakan anti pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang kerap disuarakan oleh berbagai aktivis, politisi, dan akademisi. Tidak sedikit pihak yang memiliki pandangan bahwa, pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang sangat jahat yang harus kita lawan dan hancurkan. Mementingkan pertumbuhan ekonomi, bagi kalangan ini, dianggap sebagai bentuk kerakusan. Seseorang yang percaya bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang harus kita capai, dilihat dengan sinis sebagai seseorang yang hanya mementingkan uang, harta, dan kekayaan bagi dirinya sendiri. Lantas, apakah pandangan ini sebagai sesuatu yang tepat? Apakah pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang harus kita hentikan, dan mereka yang mengavokasi untuk meningkatkan pertumbuhan lebih tinggi adalah orang-orang yang materialis dan hanya mementingkan harta dan kekayaan semata? ***** Untuk mengawali jawaban atas pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan produksi barang dan jasa para periode tertentu. Salah satu cara terbaik untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah melalui Pendapatan Domestik Bruto Gross Domestic Product / GDP. Untuk menghitung GDP suatu negara, melibatkan perhitungan seluruh hasil output ekonomi negara tersebut 19/5/2020. Adanya pertumbuhan ekonomi di suatu negara merupakan hal yang sangat penting agar suatu negara mengalami peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan. Bila output seluruh ekonomi di suatu negara meningkat, berarti para aktor ekonomi dan pemilik usaha di negara tersebut juga akan memiliki pendapatan dengan lebih besar. Dengan demikian, mereka bisa lebih banyak sumber daya untuk berinvestasi dan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dengan lapangan pekerjaan yang semakin meningkat, niscaya akan akan semakin banyak orang yang memiliki pemasukan dan bisa membiayai biaya hidup dan keluarganya. Bila lapangan pekerjaan semakin kecil, tentu tingkat pengangguran akan semakin meningkat, dan akan semakin banyak penduduk yang tidak lagi memiliki pendapatan untuk membiayai kehidupan mereka. Inilah kesalahpahaman orang-orang yang kerap memusuhi mereka yang mengganggap pro terhadap pertumbuhan ekonomi sebagai seseorang yang rakus dan hanya mementingkan harta semata. Pertumbuhan ekonomi penting bukan karena hal tersebut membuka pintu bagi orang untuk serakah dan mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya. Pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi suatu negara karena hal tersebut adalah jalan untuk mengangkat orang-orang yang tidak berpunya keluar dari kemiskinan. Dani Rodrik menulis bahwa, bila suatu negara mendapatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 10 persen, rata-rata akan berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan di negara tersebut sampai 20 hingga 30 persen Rodrik, 2007. Bila standar hidup masyarakat meningkat, maka kesempatan seseorang untuk meningkatkan kesehatan, mendapatkan makanan bergizi, dan hidup dengan usia yang lebih panjang juga semakin besar. Selain itu, bila pertumbuhan ekonomi meningkat dan lapangan pekerjaan semakin banyak, maka para orang tua juga akan memiliki insentif lebih besar untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah dan mendapat pendidikan yang baik, karena mereka sudah memiliki penghasilan yang cukup Rodrik, 2007. Salah satu cerita paling sukses terkait peningkatan standar hidup masyarakat dalam jumlah yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat cepat adalah pertumbuhan ekonomi China. Sejak Deng Xiaoping melakukan kebijakan reformasi ekonomi pada tahun 1978, dengan membuka pintu untuk melakukan kegiatan usaha dan perdagangan internasional, China telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, yakni rata-rata di atas 9 persen per tahun 30/7/2015. Hasil dari reformasi ini sangat mengesankan. Sejak tahun 1990, China berhasil mengangkat lebih dari 700 juta orang dari garis kemiskinan, dengan menggunakan standar kemiskinan internasional Bank Dunia, yakni penghasilan USD1,9 per hari. Pada tahun 1990, 750 juta warga China hidup dengan di bawah pendapatan tersebut atau dua per tiga dari seluruh penduduk China. Pada tahun 2016, angka tersebut turun drastis menjadi 7,2 juta orang, atau menjadi 0,5% dari total jumlah penduduk 28/2/2021. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang sangat mengesankan dan harus kita apresiasi. Tanpa adanya kebijakan reformasi ekonomi yang mendorong peningkatan output ekonomi pertumbuhan, niscaya capaian tersebut tidak akan bisa didapatkan. Bila ekonomi China tidak mengalami pertumbuhan, maka ratusan juta orang tetap hidup menderita di bawah garis kemiskinan di Negeri Tirai Bambu tersebut. Lihat saja apa yang terjadi di negara-negara yang mengalami defisit pertumbuhan ekonomi, seperti Venezuela misalnya. Pada tahun 2018, negara di Amerika Latin tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi minus 19,6 persen. Pada tahun 2019 dan 2020, defisit pertumbuhan negara yang dipimpin Presiden Nicolas Maduro tersebut mencapai minus 35 persen, dan minus 25% International Monetary Fund, 2021. Dampak dari minusnya pertumbuhan ekonomi tersebut sangat besar bagi masyarakat Venezuela. Masyarakat Venezuela tidak bisa menikmati berbagai kebutuhan dasar yang kita anggap taken for granted untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti listrik dan air bersih 11/4/2018. Inilah hal yang kerap diabaikan oleh mereka yang memiliki sikap antipati terhadap pertumbuhan ekonomi. Yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit mereka yang mendorong degrowth atau memutarbalikkan pertumbuhan ekonomi dunia adalah mereka kaum terdidik masyarakat urban yang tinggal di daerah perkotaan yang tinggal di negara maju. Orang-orang ini tidak sadar, bahwa kemudahan dan kemakmuran hidup yang mereka rasakan dan nikmati saat ini, juga karena pertumbuhan ekonomi negara mereka yang terus menerus meningkat pada masa-masa sebelumnya. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi, niscaya para “aktivis anti pertumbuhan” ini tidak bisa menikmati fasilitas kesehatan yang memadai, sanitasi yang bersih, tempat tinggal yang nyaman, dan sarana pendidikan yang berkualitas, karena tidak ada dana untuk membiayai dan membeli barang-barang dan fasilitas tersebut. Pertumbuhan ekonomi justru semakin dibutuhkan di negara-negara dengan pendapatan rendah untuk mengangkat penduduk mereka dari kemiskinan. Kemakmuran dan kesejahteraan tidak hanya berhak dinikmati oleh mereka yang tinggal di negara maju, tetapi juga negara-negara berpenghasilan rendah. Penduduk di negara-negara seperti Bangladesh, India, Burundi, dan Sudan, memiliki hak yang sama untuk menikmati sanitasi yang bersih, tempat tinggal yang layak, fasilitas kesehatan yang memadai, lembaga pendidikan yang berkualitas, dan pendapatan yang tinggi, seperti yang dinikmati oleh penduduk di Belanda, Denmark, Australia, dan negara-negara maju lainnya. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi niscaya hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai. Pertumbuhan ekonomi bukan perkara mengenai menumpuk harta dan gaya hidup materialis. Di banyak negara di dunia, pertumbuhan ekonomi justru berkaitan erat dengan hidup-matinya seseorang agar mereka bisa mendapatkan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup dan keluar dari belenggu kemiskinan. Referensi Jurnal Rodrik, Dani. 2007. “Why Growth Should Be at the Heart of Development Policy”. Department for International Development. Diakses dari Diakses pada 11 Desember 2021, pukul WIB. Internet Diakses pada 11 Desember 2021, pukul WIB. 11 Desember 2021, pukul WIB. Diakses pada 11 Desember 2021, pukul WIB. 11 Desember 2021, pukul WIB. Diakses pada 11 Desember 2021, pukul WIB. Haikal Kurniawan merupakan editor pelaksana Suara Kebebasan dari Januari 2020 – Januari 2022. Ia merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi “Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat 2001-2016.” Selain menjadi editor pelaksana dan kontributor tetap Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke konferensi Asia Liberty Forum ALF di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun bulan Februari tahun 2016, dan Australian Libertarian Society Friedman Conference di Sydney, Australia pada bulan Mei 2019. Haikal saat ini menduduki posisi sebagai salah satu anggota Executive Board Students for Liberty untuk wilayah Asia-Pasifik yang mencakup Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan New Zealand. Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017. Mewakili Suara Kebebasan, Haikal juga merupakan alumni dari pelatihan Atlas’s Think Tank Essentials yang diselenggarakan oleh Atlas Network pada bulan Februari 2019 di Colombo, Sri Lanka. Selain itu, ia juga merupakan alumni dari workshop International Academy for Leadership IAF yang diselenggarakan oleh lembaga Friedrich Naumann Foundation di kota Gummersbach, Jerman, pada bulan Oktober 2018. Haikal dapat dihubungi melalui email haikalkurniawan Untuk halaman profil Haikal di Students for Liberty dapat dilihat melalui tautan ini. Untuk halaman profil Haikal di Consumer Choice Center dapat dilihat melalui tautan ini. Dari kegelapan, mustahil bersinar bila tak ada yang memberi cahaya. Supartono Ada yang bertanya, apakah larangan mudik oleh pemerintah itu melanggar Hak Asasi Manusia HAM? Ada juga yang bertanya, apakah pemerintah tak dzolim kepada rakyat? Ada pula yang bertanya, apakah rakyat menuntut hak itu salah? Lalu, ada yang bilang, semua alasan demi rakyat. Tapi benarkah? Siapa itu pemerintah dan para pemimpinnya? Apakah bukan dari rakyat? Iklan Itulah deskripsi kekecewaan rakyat yang tergambar di berbagai ruang di Republik ini yang terus menghangat. Ada yang beranggapan pemerintah mementingkan diri sendiri. Egois. Ada yang berpikir pemerintah menyinari dan memberikan cahaya kehidupan untuk rakyat demi terhindar dari corona. Tetapi tetap banyak yang bilang, kebijakannya dianggap menyakiti hati rakyat. Luar biasa. Dari waktu ke waktu, terus lahir peristiwa dalam kehidupan di negeri ini, seperti quote yang saya tulis "Dari kegelapan, mustahil bersinar bila tak ada yang memberi cahaya." Semisal, satu alternatif maknanya adalah, mustahil seorang bayi bisa tumbuh dewasa dan berhasil dalam kehidupan dunia dan akhirat, bila tak diasuh dan dibimbing oleh orang tua dan oleh orang lain. Sepanjang hidup saya, saya juga belum mampu membayar hutang kebaikan dan membalas budi kepada orang-orang baik yang selama ini membantu saya, membantu kehidupan saya. Tanpa orang-orang baik yang tulus ikhlas memberikan cahaya kehidupan untuk saya, maka tak mungkin saya dapat mengungkap hal ini. Saya jadi tahu tentang menolong, membantu, berbagi, balas budi, simpati, empati, peduli, dan rendah hati. Karenanya, saya dengan mudah dapat menulis quote tersebut? Sebab, selama ini, saya meneladani orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Saya meneladani orang-orang yang hidupnya bergelimang kehidupan sosial di segala bidang. Mulai dari orang-orang biasa hingga orang-orang kaya harta dan kaya hati. Mereka terus mengajarkan dan mempraktikkan tetap melakukan kegiatan sosial bukan hanya di tempat-tempat bertajuk sosial yang selama ini menjadi alasan untuk orang-orang bersosial. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang bergelimang harta dan kekayaan serta serta terus berebut kedudukan, jabatan, dan kekuasaan, tapi miskin hati, miskin simpati, empati, dan tak tahu diri, mementingkan dirinya sendiri di atas penderitaan orang lain dan rakyat. Bila makna quote diurai oleh 100 kepala misalnya, maka minimal akan ada 100 pemikiran makna, bila 1 kepala berpikir 1 makna. Apalagi bila diurai oleh ribuan bahkan jutaan kepala. Namun, bila biasanya saya menulis quote lalu saya biarkan orang lain menafsir berdasarkan isi kepala dan hatinya, untuk kali ini, tafsiran makna alternatif quote sudah saya ulas sesuai penjelasan di atas. Perlu diingat, di dalam diri, di dalam lingkungan keluarga, di dalam lingkungan rukun tetangga RT, dalam lingkungan rukun warga RW, di dalam sebuah grup/perkumpulan, di dalam intansi/institusi, hingga di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, akan selalu ada manusia-manusia yang mementingkan diri sendiri, mementingkan kelompok dan golongannya, dan mementingkan kepentingannya, egois. ISEAKI=identifikasi manusia Sangat mudah mengidentifikasi orang-orang di sekeliling kita yang sukanya mementingkan diri sendiri. Maunya dilayani, maunya dihargai dan dihormati, tapi tak sebanding dengan timbal balik yang mereka pertunjukkan. Seolah tak butuh saat kita memerlukan bantuan, kehadiran, dan sumbangsihnya, meski sekadar dalam bentuk simpati dan empati. Komunikasi pun tidak. Orang-orang yang mementingkan diri sendiri, sesuai fungsi bahasa, pun sangat mudah diidentifikasi. Bahwa dengan bahasa, manusia menjadi berkembang intelektualnya, sosialnya, emosionalnya, analisisnya, kreatif dan imajinatifnya, serta imannya ISEAKI, maka orang-orang yang mementingkan diri sendiri, kurang berkembang hampir dalam semua aspek ISEAKInya. Sebaliknya, orang-orang yang mementingkan kepentingan bersama, kepentingan umum, dan kepentingan masyarakat adalah orang-orang yang ISEAKInya berfungsi sesuai dengan perkembangan dan berada di trek dan rel yang benar. Dan, orang-orang yang memiliki empati, simpati, peduli, tahu diri, berbudi, dan rendah hati, minimal kecerdasan intelektualmya mengarahkan pada kecerdasan sosialnya, emosinya, dan analisisnya, serta dekat dengan Tuhan, beriman. Semoga, kita semua terus berkembang ISEAKInya karena kehidupan ini, hingga menjadi manusia yang tak mementingkan diri sendiri, penuh empati, simpati, peduli, tahu diri, berbudi, dan rendah hati. Aamiin Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini. Bagi banyak orang, harta yang paling berharga dalam hidup adalah uang. Dengan uang kita akan dapat membeli apa pun sehingga tercapai kepuasan yang maksimal. Selain uang, jabatan juga sangat diimpikan dan kadang kita rela melakukan apa pun demi mendapatkan posisi yang lebih orang yang mengejar kepuasan adalah orang-orang yang egois, mereka lebih memilih untuk mementingkan diri sendiri dari pada orang lain. Mereka merasa mampu untuk menyelesaikan semuanya dengan uang yang mereka miliki. Namun, saat mereka ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang, maka sengsaralah jiwa mereka butuh perhatian kasih sayang, uang tidak dapat memberikan semua itu. Karena uang bukan jaminan kebahagiaan. Sebenarnya, uang boleh melimpah tetapi bagaimanapun keluarga tetap menjadi kerinduan disaat lagi ditimpa musibah. Dan sesungguhnya, harta yang paling berharga dalam hidup kita adalah keluarga. “Kenapa harus keluarga?” Jawabannya, karena keluarga lah tempat kita berlindung, dan kepada keluargalah tempat kita mencurahkan isi hati. Memang kini kita sudah tumbuh dewasa dan mungkin terlalu sibuk mengurusi hal yang lebih menyenangkan di luar rumah. Kita lupa, bahwa ada orang tua yang juga butuh canda tawa dari kita. Kita lupa, bahwa merekalah yang senantiasa menghibur saat kita menangis di masa kecil lupa, bahwa mereka telah bersusah payah mencari kehidupan yang lebih baik demi menyelamatkan masa depan anak-anaknya. Dan seharusnya, jika kita telah seharian berada di luar rumah dan kemudian pulang untuk mencari perisitirahatan, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, yang membuat kita bisa hadir di dunia. Sebab, jika tanpa usaha mereka, kita tidak akan sampai sejauh ini bisa menjalani kehidupan. Maka selagi ada waktu, jangan hanya memberikan perhatian kepada orang lain, tapi lalai memberikan perhatian pada keluarga. Pastikan, setiap hari sebelum melakukan aktivitas, kedua orang tua kita dalam keadaan baik-baik saja. Dan buat kamu, yang masih memiliki keluarga yang lengkap sayangilah keluargamu sebelum mereka pergi meninggalkanmu dan cintailah keluargamu seperti kamu mencintai dirimu jagalah keutuhan keluargamu. Karena keutuhan keluarga akan semakin kokoh manakala berdiri diatas pilar-pilar cinta yang kuat, dimana ada rasa kasih sayang antara anggota selalu merasa bersyukur dan merasa bahagia hidup bersama keluarga kecilku, mereka adalah ibu, abang dan juga adikku. Meski tak sesempurna kehidupan keluarga orang lain yang telah memiliki segalanya, aku menganggap apa yang kumiliki lebih dari cukup. Walaupun kadang aku sedikit iri melihat temanku yang memiliki keluarga lengkap. Tapi, aku sadar diri. Kehidupan masing-masing orang itu berbeda dan sudah ditakdirkan oleh Tuhan. “Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

orang yang mementingkan harta